The Papua Traveling

Asyiknya Jalan-Jalan ke Tanah Papua

 
BERITALINGKUNGAN.COM
Environment News Blog
News Blog
Other things
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.
Other things
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.
Papua New Guinea Beach (Panorama Pantai Papua Nugini)
Rabu, 08 April 2009

















Enjoy the coast of Papua New Guinea is facing directly to the Pacific ocean. Dok Photo : Marwan.
(Menikmati pemandangan pantai Papua Nugini yang menghadap langsung ke Samudera Pasifik. Photo : Marwan. A)
posted by tim blogger @ 08.15   0 comments
Public Notice Area PNG





Before the roads in the border area of PNG, a visitor should read the announcement that a number of posko officers in the border of PNG. One of the sound is "Visitors are forbidden to remove any waste in place". If the violation will be fined K.10.00 (read ten quinine), or Rp 30,000, not the middling expensive?. Kina is the currency of PNG (Papua New Guinea). Photo : Marwan

Sejumlah pengumuman yang ditempel di posko petugas perbatasan PNG. Salah satu bunyi pengumuman tersebut adalah"Pengunjung dilarang membuang sampah di sembarang tempat". Jika melanggar akan didenda K.10.00 (baca sepuluh kina), atau Rp 30.000, lumayan mahal bukan??. Kina adalah nama mata uang negara PNG (Papua Nugini).
Foto : Marwan
posted by tim blogger @ 07.31   0 comments
Officer of RI-PNG Border (Petugas Perbatasan PNG-RI)














This is the guy on duty to maintain RI-PNG border, while opening the door of the border.
Photo : Marwan

(Inilah cewek yang bertugas menjaga perbatasan RI-PNG, sementara membuka pintu perbatasan. Cantik kan?? Foto : Marwan).



After successfully melobby the border and go through the door that guarded the border of RI, I along with Lia, Azis, Rio and Komprob (photos) continue the journey to enter the gate of Papua New Guinea (PNG)-RI (Republic of Indonesia). Dok : Marwan

(Setelah berhasil melobby petugas perbatasan dan melewati pintu perbatasan yang dijaga pihak RI, saya bersama Lia, Azis, Rio dan Komprob (nyambil foto) melanjutkan perjalanan memasuki pintu gerbang Papua Nugini (PNG)-RI (Republik Indonesia). Dok : Marwan)
posted by tim blogger @ 05.33   1 comments
Foto Terakhir Joker Japugau, Sang Manusia Koteka
Jumat, 03 April 2009

Rabu pagi (4/2/2009) Joker Jupugau yang sehari-harinya mengenakan koteka, pakaian khas warga pengunungan tengah Papua masih menyempatkan dirinya mampir ke Timika Golden Hotel di SP 2 Kota Timika, Namun dua hari kemudian pria koteka ini hidupnya berakhir dengan tragis.

joker dan saya

Catatan : Marwan Azis *

Kedatangan Joker ke Golden Hotel, tempat saya menginap selama penelitian media di Timika bersama Tanta P Scober dan Mesak Ullo, merupakan kesempatan langka dan unik apalagi sebelumnya saya bersama Lia Palupi sempat gagal berburu manusia Koteka di bundaran Abepura Jayapura Desember 2008 lalu, karena target (baca manusia koteka) tak mau difoto. Karenanya saya tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk berfoto bareng dengan Joker, yang saat itu menggunakan koteka yang membungkus “terpedonya”, sementara buah sakarnya berwarna coklat kehitaman terlihat mengantung di bawa pusaran koteka. Joker Kulitnya hitam mengkilat, lekukan wajahnya keras, hidungnya besar dan mancung yang dicat warna hitam. Sekilas bibirnya yang dipadukan dengan sorot matanya yang tajam menampakan dia seorang panglima perang.

Lelaki brewok itu juga melengkapi dirinya dengan peralatan perang berupa panah dan tombak. Meskipun terlihat sangar, namun Joker juga murah senyum apalagi kalau kita sudah akrab dengannya. Joker juga mengenakan ikat kepala berwarna merah yang dipadukan dengan kain berwarna kuning dan kalung yang terbuat dari tali berwarna merah dan putih. Tak ketinggalan Joker juga menggunakan noken, tas khas Papua yang terbuat dari kulit kayu geneman.

Pada bagian lengan kanan Joker terlihat puluhan lembar daun kamboja dikat rapat. Daun kamboja biasanya ditemui di sekitar kuburan tak heran kalau daun itu juga dikenal sebagai daun kematian. Atas bantuan loby salah seorang karyawan hotel, saya akhirnya bisa foto bareng dengan si manusia koteka dari Nabire, salah satu kabupaten di masuk dalam wilayah penggunungan tengah Papua.

Sementara Tanta Pranacitra Scober (rekan peneliti LP3ES-Jakarta) bertindak sebagai fotografer, kebetulan ia memiliki kamera SLR. Salah seorang tamu hotel juga ikut berfoto dengan Joker.

Namun siapa sangka dua hari kemudian, pagi hari usai mandi saya dikabari oleh karyawan hotel yang menginformasikan Joker ditemukan tewas di Jalan Bougenville, Timika pada malam Jumat (6/2). Berita duka itu tentu sangat mengejutkan bagi kami dan karyawan hotel Golden Timika. Menurut Wakapolres Timika, Kompol Jeremias seperti dikutip Radar Timika (9/2), berdasarkan hasil otopsi pada bagian limpa almarhum Joker pecah, diduga Joker meninggal karena dianiaya.

Penyebabnya terhadap korban, kata Wakapolres Rontini, sesuai informasi yang diperolehnya berawal dari aksi pelemparan terhadap rumah milik AK oleh oknum warga yang hingga kini belum diketahui indentitasnya.”Kita belum tahu siapa yang lempar rumah, tapi saat itu korban (Joker) berada di lokasi kejadian. Tidak tahu ceritanya bagaimana (mungkin) dikira korban yang lempar rumah milik pemilik bengkel,”paparnya pada Radar Timika.

Mendengar berita duka saya hanya bisa berucap Inna lilla wa inna Ilairajium. Saya tak menyangka kalau Joker secepat itu berpulang menghadap Sang Pencipta. Dua hari lalu saya masih sempat bincang-bincang dengan almarhum Joker di pelataran hotel Timika Golden Hotel usai berfoto, salah seorang karyawan hotel juga ikut nimbrung dalam perbincangan itu.

Yang teringat jelas bagi saya, ia berkali-kali menyebutkan namanya pada saya,”Namanya saya gampang diingat, kalau main joker pasti ingat saya, karena nama saya Joker,”kata Joker saat memperkenalkan diri. Meskipun Joker sudah tak tinggal di pedalaman Papua, namun ia tetap setia mengenakan koteka termasuk ketika dia mengayu becak. Bahkan Joker telah menjadi aikon model koteka bagi tamu Timika Golden Hotel.

Cukup dengan membayar 25 ribu rupiah tamu hotel sudah bisa berfoto bareng dengan Joker. Sayangnya kini Joker sudah berada di alam lain, dan pengambilan foto pada tanggal 4 Februari 2009 lalu menjadi foto terakhir si manusia koteka yang hobby merokok itu. Selamat Jalan Joker.***

.........

Last Photo Japugau Joker, The Human Koteka

Wednesday morning (4/2/2009) Joker Jupugau the day-to-day wear koteka, clothing typical of the Papua still himself to drift Golden Timika Hotel in Timika City SP 2, but two days later this man koteka with the tragic end of his life.

Note: * Marwan Azis

Joker coming to the Golden Hotel, where I stayed for media research in Timika Tanta with P Scober and Mesak Ullo, is a rare and unique opportunity especially before I got together with Lia Palupi hunting man fail Koteka roundabout in Jayapura in December 2008 Abepura ago, because the target (see human koteka) volens difoto. I therefore do not dissipate the opportunity to berfoto with the Joker, who then use that incase koteka "terpedonya", while the fruit sakarnya blackish brown visible under rotation koteka.

Black skin shine, indentation face hard, sharp nose and a big black dicat. Overview of the lips combined with the sharp eyes beam him a war commander.

Shaggy man himself is also complete with the tools of war such as arrows and spears. Although it looks sangar, but also cheap Joker smile especially if we are familiar with. Joker also wear a red headband that combined with a yellow cloth and a necklace made of rope and a red and white. Joker is also never missed the use Noken, Papua typical bag made of bark geneman.

Right arm at the Joker seen dozens of pieces of leaves Cambodia dikat meeting. Leaves Cambodia usually found around the tombs not wonder if the leaves are also known as leaf death. The assistance loby a hotel employee, I finally can with photos with the people of Nabire koteka, one of the districts in the entrance area in Papua.

Meanwhile, Tanta Pranacitra Scober (co-researchers LP3ES Jakarta) to act as photographer, he has a chance SLR camera. One of the guests the hotel also berfoto with the Joker.

But who suspected two days later, the morning after my bath dikabari by hotel employees of the Joker found killed in road Bougenville, Timika on Friday night (6 / 2). News of the grief is very surprising for us and the employees of the hotel Golden Timika. According Wakapolres Timika, as quoted Kompol Jeremias Radar Timika (9 / 2), based on the results of the spleen otopsi deceased Joker broke out, allegedly because the Joker died persecuted.

The causes of the victims, said Wakapolres Rontini, obtaining appropriate information from the action was shot against a house owned by AK individual citizens who have not been known until now indentitasnya. "We know who has not been throwing home, but at that time the victim (Joker) is in the location of the incident . Do not know how the story (probably) dikira victim throwing a house owned by garage owner, "he said on the Radar Timika.

I heard the news tears can only say Inna lilla wa inna Ilairajium. I never thought that as soon as the Joker die facing the Creator. Two days ago I was still chatting chatting with the deceased Joker in the Timika hotel berfoto after the Golden Hotel, one of the hotel employees also participate in conference it.

Clearly remember that for me, many times he mentioned the name to me, "my name is easy to remember, if the main Joker definitely remember me, because my name Joker," said the Joker when introducing themselves. Although the Joker is not living in the outback of Papua, but he remains faithful put koteka including when he mengayu becak. Even aikon Joker has become a model for guests koteka Timika Golden Hotel.

Simply pay 25 thousand rupiah hotel guests can berfoto together with the Joker. Unfortunately, now is the Joker in nature, and photos on 4 February 2009 ago to become the image of the last human koteka the hobby of smoking. ***




posted by tim blogger @ 21.44   0 comments
Menikmati Kelapa Muda di Tepian Teluk Yotefa
Kamis, 25 Desember 2008


Dalam perjalanan pulang dari Kota Jayapura menuju Wisma Universitas Cenderawasih Abepura, tempat kami menginap selama mengadakan riset media di Papua. Saya bersama Dominggus Mampioper (Kontributor VHR wilayah Papua) menyempatkan diri singgah di sebuah pondok di Jalan Skyline yang lokasinya tepat di perbatasan Kota Jayapura dan Abepura.

Pondok itu dikelola seorang ibu paruh baya yang bernama Yance Inggame, ditempat ini Ibu Yance mengais rejeki dari para pengguna jalan yang sempat singgah istrahat sambil menikmati air kelapa muda. Dengan uang 5000 rupiah kita sudah bisa menikmati satu gelas kelapa muda di Tepian Teluk Yotefa. Ibu Yance juga menyediakan menu kelapa muda yang dicampur sirup, susu dan es batu dijual Rp 10.000 pergelas.




Dari atas pondok ini, kita bisa melihat gugusan pulau yang lautnya tenang dan membiru dan terletak di teluk Yotefa yang memiliki dua kampung bernama Tobati dan Enggros, daerah ini masih termasuk dalam distrik kota Jayapura Selatan. Diperkirakan sekitar 100 Kepala Keluarga (KK) mendiami kedua kampung ini. Pesona lautnya berwarna biru membuat setiap mata yang memandang di sepanjang Jalan Syline.


Di sebelah kanan terbentang gunung Vim yang kaya akan keanaeragaman hayati seperti cemara papua, pohon matoa, merbau dan kera ekor panjang yang konon dibawa tentara Amerika saat perang dunia dunia II. Peninggalan perang dunia II lainnya adalah kapal perang Jepang yang karam di sekitar pesisir kaki gunung Vim. Di sebelah teluk Yotefa terbentang sebuah pulau besar yang tak lain adalah negara Papua New Gini (PNG).


Penduduk Tobati dan Enggros lebih senang dipanggil sebagai orang Enggros. Kata Enggros sendiri berarti Kampung Yang Kedua. Engg artinya Tempat dan Ros artinya Dua. Sedangkan kampung pertama adalah Tobati.

Orang Enggros meyakini bahwa mereka berasal dari nenek moyang mereka berasal dari Gunung Mer. Gunung yang tegak berdiri di hadapan Kampung Enggros dan terletak di dalam teluk Yotefa, dan teluk Yotefa terletak di dalam teluk Humbolbay. Ini yang membuat tempat ini menjadi menarik karena di dalam teluk di dalam teluk.


Awalnya tempat ini bernama Numbay, yang artinya tempat tinggal. Tetapi kemudian Pemerintah Belanda mengganti nama Numbay menjadi Holandia, saat Papua bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, dibawah komando Soekarno nama Holandia diganti menjadi namanya jadi Soekarnopura dan kemudian berubah nama lagi pada Pemerintah Soeharto menamai Irian Jaya


Menurut penuturan salah seorang tokoh masyarakat Papua, Marthen Drunyl seperti dikutip majalah Flash (8/11), Orang Enggros terbagi mendiami beberapa tempat, seperti di Yobe, Asei, Tablasupa dan Kayu Batu. Hal ini bermula dari nenek moyang mereka Mer, yang mempunyai 12 anak-anak dan seorang anak perempuan.

Sang kakak melanggar hukum adat, yaitu mengawini adik perempuan bungsunya. Akibat dari perbuatan ini, sang kakak dan adik diusir dari Enggros. Mereka kemudian menempati daerah dipinggiran Danau Sintani yang bernama Yobe. Yobe artinya kampung kedua sama seperti arti dari Enggros.


Pada awalnya seluruh teluk Yotefa merupakan daratan hutan rimba, yang ada hanya kolam kecil dan airnya bersumber dari mata air Pulau Msumo (sekarang pekuburan Tobati), dan satu lagi di pinggir kampung Enggros yang kemudian mengalir ke laut. Tetapi karena kesalahan manusia, daratan ini dihantam ombak yang menyerupai dua hantu. Kedua hantu ini memporak-porandakan seluruh daratan dengan air laut sehingga terbentuklah pulau-pulau seperti Pulau Debi, Pulau Msumo, Pulau Hamadi, Kayu Pulo, Kayu Batu, Pulau Holtekam hingga ke Pulau di Vanimo, PNG.


Pada bulan-bulan tertentu terutama bulan Juni-September sering terjadi musim air surut di sekitar kampung Topati dan Enggros terbentang hamparan pasir laut berwarna coklat. Kesempatan ini dimanfaatkan warga setempat untuk bermain bola kaki, bola volley, lomba layang-layang dan lain sebagainya.”Beberapa pemain bola yang memperkuat tim Persipura berasal dari pulau ini, salah satunya adalah Fison Merauje (mantan penjaga gawang Persipura),”ungkap Dominggus yang juga aktif mengelola salah satu blog bola di wordpress. Dan bagi penggemar ski tanjung Kasuari dan Ciberi adalah pilihan yang tepat.


Bagi yang ingin menghabiskan waktu liburan, Enggros bisa menjadi pilihan yang tepat bagi Anda. Kita bisa menumpang perahu motor dari Dermaga. Pasar Yotefa untuk sampai di Enggros. Waktu yang dibutuhkan hingga ketujuan hanya sekitar 15 menit dengan biaya Rp 10.000, tak perlu repot-repot bawa makanan. Kita tinggal memesan ikan apa saja, warga Enggros akan menyediakannya. Tak hanya itu kita juga dapat menikmati kelapa muda di pesisir kampung Enggros yang memiliki laut yang tenang dan membiru. Enak tenang !!! *** (Marwan)

Enjoying Young Coconut Bay on edge Yotefa

In return trip from the city of Jayapura Wisma Abepura Cenderawasih University, where we stayed during the research the media in Papua. I shared Dominggus Mampioper (Contributor VHR Papua region) self layover in a hut on Skyline Road the location right in the border city of Jayapura and Abepura.

Hut it managed a part-old mother named Yance Inggame, at this Mother Yance Rejeki paw of the user who had a stop in the road while enjoying istrahat young coconut water. 5000 dollar with the money we are able to enjoy a glass of young coconut in the Bay edge Yotefa. Yance mother also provides the young coconut mixed with syrup, milk and ice cubes sold Rp 10,000.

From the top of the hut, we could see a group of islands the marine head and go and is located in the bay Yotefa which has two villages called Tobati and Enggros, this area is still included in the district south of the city of Jayapura.

Estimated at the Head of Family 100 (KK) both inhabit this village
. Marine blue eyes that make each look at along Syline.

On the right side of the mountain range that Vim akan rich biodiversity such as pine papua, tree matoa, merbau monkey tails and long tongues of men brought the American army during world war II world. Survival of the world war II, the other is a Japanese war ship wreck in the mountains around the coastal foot Vim. In the bay Yotefa spread a large island that no other country is Papua New Guini (PNG).

Population Tobati Enggros and more happy people called Enggros. The word itself means Enggros Both the village. Engg artinya Tempat dan Ros artinya Dua. Place Engg means and means Ros Two. While the village is the first Tobati.

Enggros person believes that they came from their fathers originating from Mount Mer. Mountain that stood upright in front of Village Enggros and is located in the bay Yotefa, and Yotefa bay located in bays Humbolbay. This makes this place to be interesting because in the bay in the bay.

Originally this place called Numbay, which means a place to stay. But then change the name of the Government of the Netherlands Numbay become Holandia, while Papua join in the Republic of Indonesia, under the command Soekarno Holandia name changed to his name so Soekarnopura and then changed the name again on the Government of Soeharto named Irian Jaya

According to one of the Papuan community leaders, as quoted Drunyl Marthen Flash magazine (8 / 11), divided Enggros People inhabit some places, such as in Yobe, Asei, Tablasupa Wood and Stone. This begins from their fathers Mer, which has 12 children and a daughter.

Sisters violate the law, the women make a brother. As a result of this act, the older sister and younger brother expelled from Enggros. They then occupied the Lake Sintani called Yobe. Yobe is the same as the two villages of Enggros.

Initially, the entire bay is Yotefa jungle mainland, which have only a small pond and the water comes from springs Msumo Island (now Tobati cemetery), and one on the edge of the village Enggros then flows to the sea. But because of human error, this land the two ghost-like. Both this ghost all land with sea water so that terbentuklah islands such as Pulau Debi, Msumo Island, Hamadi Island, Pulo Wood, Wood Stone, Holtekam Island to Island in Vanimo, PNG.

On certain months, especially in June-September season often occurs in the water around the village Topati and outward Enggros carpet sea sand brown. Used this opportunity for local people to play foot ball, volley ball, kite competitions and so on. "Some of the soccer players to strengthen the team Persipura come from this island, one of which is Fison Merauje (former goalkeeper Persipura)," said the Dominggus also actively manages one of the ball in the wordpress blog. And for ski fans and Ciberi Kasuari peninsula is the right choice.

For those who want to spend leisure time, Enggros can be the right option for you. We can ride the boat's motor Dermaga. Yotefa to market until the Enggros. The time needed to only about 15 minutes with a cost of Rp 10,000, need not trouble bring food. We live fish any book, people Enggros akan provide. Not only that, we also can enjoy the young coconut in the coastal village Enggros with a sea of calm and go.Nice quiet! *** (Marwan)
posted by tim blogger @ 08.56   0 comments
Papua landing (Mendarat Papua)

Mendapatkan tugas penelitian konflik dan kekerasan berbasis surat kabar di Papua bagi saya merupakan kesempatan yang menyenangkan. Disamping bisa memahami berbagai permasalahan konflik yang membelit masyarakat Papua mulai dari konflik saparatisme hingga konflik antara masyarakat dan kekerasan rumah tangga (KDRT).

Dibalik konflik Papua yang terkadang membuat pening kepala pemerintah dan pemangku kepentingan lainnnya memikirkan jalan keluarnya. Keindahan alam Papua menawarkan sejuta kedamaian, pesonanya membentang dari ketinggian hutan hingga kedalaman samudera.

Keindahan alam Papua mulai terlihat ketika Pesawat Merpati yang kami tumpangi sesaat akan mendarat di Bandara Sentani Abepura. Dibalik awan tampak vegetasi hutan yang menghijau, teluk Sentani juga terlihat jelas dari kaca jendela pesawat.

Bersama dua rekan peniliti lain, Lia Ratna Palupi Nasution dan Abdul Azis (LP3ES), kami mendarat di Papua pada tanggal 2 Desember 2008 sekitar pukul 16.00 WIT dengan menumpangi pesawat Merpati.

Pesawat yang kami tumpangi Alhamdulillah mendarat dengan mulus. Pertama sekali menginjakan kaki di tanah Papua, saya bersama Lia dan Azis mengabdikan keindahan Bandara Sentani dikelilingi hutan tropis yang masih tampak alami dengan menggunakan kamera digital.

Sejak mendarat di Sentani, kami mulai mencoba mencari surat kabar lokal, namun tak satupun koran lokal maupun nasional yang ditemui di Bandara. Setelah mengamankan barang-barang kami, Azis segera mencari mobil sewaan yang akan mengantar kami menuju ke kampus lama Universitas Cenderawasih (UNCEN) di Abepura.

Tak lama kemudian Azis menginformasikan bahwa Ia sudah mendapatkan mobil sewaan. Mobil kijang itu dikemudikan oleh Pak Ilyas, sopir asal Makassar yang sudah 20 tahun merantau dan menetap di Papua. Perjalanan kami dari Bandara Sentani menuju Abepura memerlukan waktu kurang lebih 30 menit. Di tengah jalan kami berhenti sesaat di Danau Sentani, setelah mengambil beberapa gambar, kami melanjutkan perjalanan menuju kampus UNCEN. Atas arahan dan petunjuk Pak John Rahel (Dosen UNCEN), kami akhirnya menginap di wisma UNCEN selama penelitian. (WAN)

.......

Papua landing

Getting the task of research-based conflict and violence in Papua newspaper for me is a fun opportunity. In addition to understand various problems which involve community conflict Papua saparatisme from conflict to conflict between people and domestic violence (domestic violence).

Behind the Papua conflict sometimes make the head swim, and government stakeholders have other way out. Natural beauty of a million Papua offer peace, forest extends from a height of up to ocean depths.

Papua natural beauty look starts when our Aircraft Merpati tumpangi akan landed right in the Sentani Airport Abepura. Behind the cloud forest vegetation appears to be, Sentani bay also clearly visible from the window glass plane.

Together with two other colleagues peniliti, Ratna Palupi Lia Nasution and Abdul Azis (LP3ES), we landed in Papua on 2 December 2008 at approximately 16:00 WIT with Merpati.

Aircraft Alhamdulillah we landed with. Firstly foot in the land of Papua, with Lia, and I Azis subjugate Sentani Airport, surrounded by beautiful tropical forest that still looks natural with the digital camera.

Since landing in Sentani, we began to try to find the local newspaper, but none local and national newspapers found in the Airport. Once secure the goods we, Azis soon find a car hire that will take us to the old campus of the University of Cenderawasih (UNCEN) in Abepura.

Not long after Azis informed that he has to get a car rental. Cars that deer be steered by Mr. Ilyas, the original driver that is 20 years old wander and settle in Papua. We travel from the Sentani Airport Abepura takes approximately 30 minutes. In the middle of the road we stopped right on Lake Sentani, after taking some pictures, we continue the journey to the campus UNCEN. Up direction and guidance Pak Rachel John (Lecturer UNCEN), we finally stayed at home during UNCEN research. (WAN)
posted by tim blogger @ 08.13   1 comments
Burung Kasuari (Casuarius casuarius)


Indonesian Burung Kasuari (Casuarius casuarius) is also known as the Southern Cassowary, third largest bird in the world after the African ostrich and the emu, is a native of the eastern part of the Indonesian archipelago, the Irian Jaya province and the surrounding Islands, basically Papua-New Guinea. Also inhabits the uppermost forested areas of Australia.
THIS IS A FEROCIOUS BIRD, THE ONLY MAN-KILLING BIRD I KNOW!!! The 2004 Guiness Book of Records definatelly classifies cassowary as the most dangerous bird for humans. It is considered extremelly dangerous and treated like larger carnivorous mammals in handling.
While it doesnt eat the humans, the trumendeous ammount of muscular force combined with the mechanical of its weapons (steel beak and crested helmet that can crack skulls and claws to match) alonside amazing natural abilities like fast running or high jumping. Attacking cassowaries charge and kick, sometimes jumping on top of the victim. Unlike emus, which reputedly kick backwards, cassowaries can kick in a forward and downward direction. They may also peck, barge, or head-butt. The commonest injuries they cause in humans are puncture wounds, lacerations and bone fractures and also death as a cause of the mentioned.
Recorded victims are not only between the native islands but also amongst zoo keepers. Here is some macabrous literature:
http://www.asij.ac.jp/elementary/projects/aussy/crispin.htm

http://www.amazingaustralia.com.au/animals/cassowary-attacks.htm

STILL, the cassowary is not as much of a threat to humans as the other way around since loss of habitat, hunting, dogs and especially road kill decreased the number to the point where this animal became highly endangered and made it into the Red List, and efforts are made to preserve its existence for the future generations. (treknature.com)

Kasuari Gelambir-ganda atau dalam nama ilmiahnya Casuarius casuarius adalah salah satu burung dari tiga spesies Kasuari. Burung dewasa berukuran besar, dengan ketinggian mencapai 170cm, dan memiliki bulu berwarna hitam yang keras dan kaku. Kulit lehernya berwarna biru dan terdapat dua buah gelambir berwarna merah pada lehernya. Di atas kepalanya terdapat tanduk yang tinggi berwarna kecoklatan. Burung betina serupa dengan burung jantan, dan biasanya berukuran lebih besar dan lebih dominan.

Burung Kasuari mempunyai kaki yang besar dan kuat dengan tiga buah jari pada masing-masing kakinya. Jari-jari kaki burung ini sangat berbahaya karena diperlengkapi dengan cakar yang sangat tajam. Seperti umumnya spesies burung-burung yang berukuran besar, burung Kasuari Gelambir-ganda tidak dapat terbang.

Populasi Kasuari Gelambir-ganda tersebar di hutan dataran rendah di Australia, pulau Irian dan pulau Seram di provinsi Maluku. Spesies ini merupakan satu-satunya burung di marga Casuarius yang terdapat di benua Australia. Pakan burung Kasuari Gelambir-ganda terdiri dari aneka buah-buahan yang terjatuh di dasar hutan.

Burung Kasuari biasanya hidup sendiri, berpasangan hanya pada waktu musim berbiak. Anak burung dierami dan dibesarkan oleh burung jantan.

Penangkapan liar dan hilangnya habitat hutan mengancam keberadaan spesies ini. Kasuari Gelambir-ganda dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List.(wikipedia)



posted by tim blogger @ 05.40   0 comments
About Me

Name: tim blogger
Home: Indonesia
About Me:
See my complete profile
Previous Post
Archives
Links
  • Iddaily
  • Insurance News
  • Gold Mining
  • Hotel Condo Resort
  • Craft and Furniture
  • Fan Gears
  • Car Pictures
  • Easy Light Digital
  • Education News
  • Auto Part
  • Phones and Accessories
  • Free PDF
  • Powered by

    BLOGGER

    © 2006 The Papua Traveling .Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Car Pictures